Liputan Kompas tentang penemu Super Bio Collagen

koran-kompas-edisi-9-Desember kang jana rastura

Bagi yang belum sempat membaca koran Kompas edisi 09 Desember 2015, ada ulasan mengenai sosok penemu Super Bio Collagen, yaitu Prof Sudjana. Berikut kutipannya :
koran-kompas-edisi-9-Desember kang jana rastura“Jika engkau ingin hidup sehat , panjang umur, dan gigi tetap kuat, cobalah banyak makan buah kesemek. Bagi seorang perempuan, kesemek juga baik untuk kesuburan…”

Ungkapan di atas merupakan wejangan yang telah dituturkan turun-temurun dari orang tua dulu, yang akhirnya sampai pula ke telinga Mochamad Sudjana (43).
“Pesan itu sering dilontarkan orangtua saya dalam obrolan di lingkungan keluarga. Apa yang disampaikan itu merupakan kearifan lokal dan sangat membekas dalam ingatan saya. Bagi saya, apa yang dituturkan orangtua itu juga mengandung kekuatan spiritual dan membuat saya makin penasaran sehingga saya melakukan penelitian khusus untuk mengetahui rahasia khasiat kesemek.” kata pria kelahiran Bandung ini.
Rasa penasaran Sudjana terhadap buah kesemek (Diospyros kaki) atau yang biasa disebut buah genit itu makin kuat dengan melihat sejumlah fakta bahwa kalangan orangtua dulu yang rajin mengonsumsi kesemek umumnya dapat mencapai usia lebih dari 100 tahun. ketika mereka meninggal tidak mengidap penyakit kronis atau mengalami kelainan pada ekologi tubuhnya. Namun, kesemek yang tumbuh pada daerah di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau di sekitar kawasan gunung berapi dengan kandungan vulkanik yang tinggi itu umumnya hanya dipandang sebagai tanaman liar yang tak berharga. Kesemek kurang enak jika dikonsumsi langsung sebagai buah segar. Rasanya sangat kelat atau sepat.
“Pada awalnya saya hanya berkeyakinan pasti ada sesuatu yang unik dari buah ini. Untuk membuktikannya hingga menjadi suatu ilmu dari tatanan budaya harus ditarik ke dimensi ruang melalui penelitian ilmiah, ” ujar lak-laki yang humoris ini.
Sudjana, yang akrab disapa dengan Kang Jana, mulai meneliti kesemek dengan tekun saat di bangku kuliah. Namun, sebelum kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kang Jana sekitar tahun 1993 lebih dulu menempuh studi di Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung. (1989-1993).
Kuliah di Fakultas Kedokteran Unpad pun tak diselesaikan Kang Jana karena ia terlebih dahulu mendapatkan pekerjaan. Kuliah kedokteran lalu dilanjutkan di Universitas Seattle, Amerika Serikat.
Di AS, ia mendalami ilmu bionuklir hingga Sudjana memperoleh gelar guru besar di bidang tersebut, yang sekaligus satu-satunya orang di Indonesia yang meraih gelar Guru Besar Bio Nuklir.

Zat “tannin”
Sekembali ke Tanah Air, Kang Jana baru fokus meneliti kesemek. Dalam penelitian ia menemukan bahwa dalam buah kesemek terkandung zat tannin yang membedakan dengan jenis buah-buahan lainnya.
Menurut Kang Jana, kesemek juga memiliki vitamin yang komplet, yang tidak dimiliki buah-buahan yang lain. Vitamin yang paling menonjol dalam kesemek adalah B1 yang berkhasiat untuk anti penuaan dan vitamin B17 yang dapat mengobati kanker dan tumor.
Namun, dua vitamin ini, B1 dan B17, tidak akan berfungsi kuat jika tidak dibarengi zat tannin, yang merupakan zat aktif dalam buah kesemek. Zat tannin yang mendorong kebutuhan vitamin yang dibtuuhkan oleh tubuh dan manusia itu pada dasarnya sakit karena kekurangan vitamin.
“Bagi saya, kesemek justru merupakan raja buah karena mengandung vitamin yang komplet. Kita mungkin juga kualat, ya. Coba perhatikan saja di supermarket, kalau buah-buahan impor seperti apel, jeruk, pisang, kiwi, atau mangga dipajang dengan kemasan yang menarik, rapi, dan bersih. Sebaliknya, perlakuan terhadap kesemek sangat menyedihkan,”ujarnya.
Sudjana berpendapat, cairan kesemek ini dapat mengubah tatanan metabolisme di dalam tubuh yang akan memperbaiki sistem di dalam ekologi tubuh. Semua makanan yang masuk ke dalam tubuh dapat diproses dengan mudah tanpa memerlukan peran sangat keras organ-organ vital dalam tubuh, seperti ginjal, liver, dan jantung.
Dengan demikian, kesemek amat baik dikonsumsi manusia. Seseorang yang banyak mengonsumsi cairan buah ini akan cenderung memiliki tubuh yang sehat dan panjang umur. Itu terjadi karena organ vital di dalam tubuh manusia dapat bekerja lebih ringan dan beristirahat.
Dari penemuan ini, Sudjana pun kemudian menerapkan pada pasien kencing manis (Diabetes Melitus). ia meyakini, kerusakan sel yang terjadi akibat penyakit diabetes dapat diperbaiki terutama mereka yang mengalami gejala atau penderita diabetes karena pola makan dan gaya hidup yang kurang baik, bukan karena faktor kelainan sejak lahir.
Tahun 2004, ia membuka Klinik Diabetes Rastura, di Kota Bekasi, Jabar, dan pasien yang berobat bersasal dari berbagai kalangan dalam dan luar negeri.
Kang Jana juga menemukan sekitar 1.200 jenis obat-obatan herbal yang diaplikasikan di kliniknya. Namun, keberhasilan Kang Jana dengan pengobatan herbal pernah mendapat banyak “serangan” dari industri farmasi. Untuk meredam gejolak, pemerintahan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai meminta Sudjana “mengungsi” sementara ke Genewa, Swiss, guna menjalankan tugas Pemerintah Indonesia mengikuti penelitian di bidang kesehatan di markas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Uji Laboratorium
Kang Jana baru mengaplikasikan hasil penelitian buah kesemek ke dalam produk herbal dan diperkenalkan kepada masyarakat pada 2013, setelah melalui uji laboratorium di ITB, Unpad, dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Ia baru memperkenalkan produk tersebut secara luas kepada masyarakat pada pertengahan 2014.
Ia memberi nama produk herbal karyanya itu dengan Super Bio Collagen (SBC), yang disebutnya dihasilkan melalui proses biomolekuler yang alami, tanpa tambahan bahan apa pun, sehingga SBC adalah 100 persen murni berasal dari buah kesemek.
Menurut Sudjana, produk herbal itu memiliki manfaat, di antaranya, mampu meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah penuaan dini, meningkatkan kesuburan, meningkatkan gairah seksual, menormalkan tekanan darah tinggi/ rendah, menunrunkan kadar lemak, serta mencegah dan menanggulangi berbagai macam penyakit jantung, berbagai jenis tumor dan kanker, diabetes dan komplikasinya, serta stroke.
Sudjana kini sedang memproses Certificate of Analysis (CoA) ke WHO untuk hasil penelitiannya pada buah kesemek hingga menjadi produk herbal untuk pengobatan diabetes.
“Saya sempat mengecek ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), CoA tentang buah kesemek ternyata belum ada yang terdaftar di WHO. Ini makin meyakinkan saya untuk memproses CoA atau semacam hak paten ke WHO,”katanya.

Sumber : Samuel Oktora, Kompas Edisi Rabu, 09 Desember 2015 halaman 16



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*